13 Mei 2010, umat kristiani di seluruh dunia memeringati hari kenaikan
Isa al Masih. Di negeri kita, peringatan tersebut dijadikan sebagai
salah satu hari libur nasional.
Dalam Islam, Isa Almasih
Alaihissalam diyakini sebagai salah seorang rasul dan bukan Tuhan. Ia
diutus oleh Allah Subhaanahu Wata’ala kepada Bani Israil (Yahudi dan
Kristen). Ia wajib diimani oleh setiap muslim dan tidak
mendikotomikannya dari rasul yang lain, sebagaimana dalam firman-Nya,
artinya,
“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara para rasul-Nya.” (QS. al-Baqarah: 285).
Ia juga diyakini telah naik atau diangkat oleh Allah Subhaanahu
Wata’ala ke sisi-Nya. Keyakinan naiknya Almasih dalam Islam ini,
ternyata jauh berbeda dengan konsep naiknya beliau dalam doktrin
Kristen.
Doktrin Kristen tentang Kenaikan Almasih
Keyakinan
naiknya Almasih ke surga atau ke sisi Allah dalam doktrin Kristen,
sangat terkait dengan klaim wafatnya beliau di tiang salib. Jika
orang-orang Yahudi mengklaim bahwa mereka telah berhasil membunuh dan
menyalibnya atas berbagai tuduhan, maka orang-orang Kristen meyakini
wafatnya di tiang tersebut semata-mata untuk menebus dosa turunan Adam
Alaihissalam. Beliau diyakini wafat pada hari Jumat dan dikuburkan pada
malam Sabtu, dan masih berada di dalam kuburnya hingga malam Ahad.
Konon kabarnya, dua hari setelah ia mati disalib, yaitu pada pagi hari
Ahad, ia bangkit dan keluar dari kuburnya dan akhirnya bertemu dengan
para pengikutnya di daerah al-Jalil, di Palestina. Setelah empat puluh
hari berada di tengah-tengah mereka—pasca penyaliban, beliau pun naik ke
langit.
Akidah Islam tentang Naiknya Almasih
Sangat
berbeda dengan keyakinan Kristen, dalam Islam beliau diyakini tidak mati
disalib. Ia telah diselamatkan oleh Allah Azza Wajalla dari konspirasi
orang-orang yahudi. Beliau lolos dari penyaliban setelah Allah Azza
Wajalla menyerupakannya dengan seseorang. Pada akhirnya, orang yang
serupa dengan Almasih itulah yang disalib.
Setelah Allah
Subhaanahu Wata’ala membantah klaim orang-orang Yahudi, “Kami telah
membunuh Isa Almasih”, Allah menjelaskan peristiwa yang sebenarnya,
yaitu, “Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, akan tetapi
ia telah diserupakan (dengan seseorang) untuk mereka.” Lalu Allah
pertegas posisi Almasih setelah selamat dari upaya pembunuhan tersebut.
“Bahkan Allah telah mengangkatnya ke sisi-Nya, dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Lihat QS. an-Nisa: 157-158).
Jumhur ulama Islam memandang bahwa beliau saat itu diangkat dengan ruh
dan jasadnya dalam keadaan masih hidup, dan akan terus seperti itu
sampai Allah menurunkannya kembali di akhir zaman sebagai salah satu
tanda semakin dekatnya hari kiamat. Keyakinan ini, didukung dengan
beberapa argumen dan fakta, antara lain:
Pertama; Allah
menyebutkan peristiwa diangkatnya Almasih ke sisi Allah dalam konteks
bantahan terhadap klaim orang-orang Yahudi bahwa mereka telah berhasil
membunuhnya. Sekiranya ia diangkat hanya dengan ruhnya saja tanpa jasad
dalam keadaan telah wafat, maka bantahan Allah terhadap mereka sama
sekali tidak memiliki arti apa-apa, sebab semua orang yang telah wafat,
baik secara normal maupun yang mati disalib, semuanya terangkat rohnya
ke langit.
Kedua; Allah menyinggungkan kasus diangkatnya ke
sisi Allah dalam surat Ali Imran ayat: 55 dalam konteks penyebutan
keistimewaan-keistimewaannya. Sekiranya ia diangkat hanya dengan ruhnya,
maka hal itu bukan sesuatu yang istimewa, karena semua manusia baik
nabi maupun manusia lainnya juga mengalami hal yang sama.
Agumentasi ini diperkuat oleh fakta yang disebutkan oleh Allah dalam firmannya:
“Dan tidak ada seorang pun di antara Ahlul Kitab, kecuali pasti ia akan
beriman kepadanya (Isa) sebelum wafatnya, dan pada hari Kiamat dia
(Isa) akan menjadi saksi atas mereka.” (QS. An Nisa:159)
Ayat
ini sangat transparan menjelaskan bahwa beliau tidak akan wafat sebelum
Ahlul Kitab seluruhnya beriman kepadanya, padahal sejarah—baik klasik
maupun kontemporer—telah mencatat bahwa tidak semua mereka beriman
kepadanya, bahkan mayoritas mengingkarinya. Secara faktual, Ahlul Kitab
yang beriman kepada Isa Almasih saat berdakwah di tengah mereka sangat
sedikit, sebagian ahli sejarah menyebutkan hanya sebelas atau dua orang
saja, yaitu; mereka yang dikenal dengan istilah kaum hawariyyiin.
Sementara ayat tersebut telah menegaskan bahwa ia tidak akan wafat
sebelum semua Ahlul Kitab beriman kepadanya. Fakta ini menunjukkan bahwa
tugas Almasih belum sempurna, tetapi kelak ia akan menyempurnakannya
sebelum ia wafat.
Fakta lain yang mendukung bahwa beliau belum
wafat, dan hanya diangkat oleh Allah adalah bahwa beliau akan
berkomunikasi dengan umat manusia saat usianya telah senja, Allah
berfirman, artinya, “Dan dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam
buaian dan saat usia senja, dan dia termasuk di antara orang-orang
shaleh.” (QS. Ali Imran: 46).
Sebenarnya, kemampuan seseorang
berkomunikasi pada usia senja, yang dalam bahasa Arab diistilahkan
dengan fase kahl atau kuhulah, yaitu umur yang telah lewat empat puluh
tahun ke atas, bukanlah sesuatu yang istimewa, tapi mengapa Allah
menyebutkannya dalam konteks keistimewaan dan memaralelkannya dengan
kemampuannya berbicara saat masih bayi? Hal tersebut dapat terjawab
dengan memahami fakta perjalanan hidupnya, yaitu; beliau diangkat oleh
Allah ke sisi-Nya saat usianya baru berkisar 33 tahun.
Dan pada
saat kembali ke permukaan bumi ini di akhir zaman, ia akan hidup selama
40 tahun, maka apabila usia 33 tahun dikalkulasi dengan 40 tahun,
hasilnya menjadi 73 tahun, yaitu usia yang benar-benar tepat dikatakan
sebagai fase alkahl atau alkuhulah. Dengan demikian, ayat tersebut
mengindikasikan bahwa ia akan melanjutkan perjalanan hidupnya di atas
muka bumi ini sebelum akhirnya beliau menemui ajalnya.
Turunnya Isa Almasih ke Permukaan Bumi
Perjalanan hidup Isa Almasih belum berakhir dengan diangkatnya ke sisi
Allah, tapi masih akan berlanjut dengan turunnya kembali di akhir zaman
ke permukaan bumi ini untuk menunaikan tugas mulia yang belum sempat
ditunaikannya atau belum sempurna pada priode kehidupannya yang lalu.
Kedatangannya nanti di akhir zaman menjadi salah satu tanda dekatnya
hari kiamat, sebagaimana dalam firman Allah Azza Wajalla, artinya,
“Dan sesungguhnya dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya
hari kiamat, karena itu maka janganlah engkau ragu tentang hari kiamat
tersebut.” (QS.az Zukhruf : 61)
Turunnya kembali Isa putra Maryam
juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam
beberapa sabdanya, antara lain,
"Demi Zat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, sungguh sudah dekat turunnya putra Maryam sebagai pemimpin
yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi dan mengapus
jizyah (pajak).” (Muttafaqun alaihi)
Kesimpulan:
Meskipun doktrin orang-orang Kristen juga meyakini kenaikan Isa Almasih
Alaihissalam, tapi keyakinan tersebut sangat berbeda dengan akidah
islamiyah. Dalam Islam, beliau diyakini sebagai sosok hamba yang
dijadikan rasul kepada Bani Israil, lalu diangkat oleh Allah Azza
Wajalla ke sini-Nya dalam keadaan hidup setelah orang-orang Yahudi
berusaha untuk membunuh dan menyalibnya. Ia masih hidup dan tidak akan
wafat kecuali setelah ia turun kembali ke permukaan bumi ini di akhir
zaman. Pada saat itu, semua Ahlul Kitab pasti beriman kepadanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar