Breaking

Selasa, 11 Juni 2013

DIALOG KEMULIAAN DIRI



"Sadar akan kemuliaan.. sadar akan kesia-siaan.. lalu memilih untuk memilih hanya yang baik bagi diri."

Aku : Aku tidak kuat dengan semua masalah hidupku.
Saya: Boleh tahu mengapa bisa merasa seperti itu?
Aku : Apa kamu tidak tahu... dalam hidup ini masalah banyak banet... satu belum selesai yang lain sudah datang lagi... mau apa sih sebenarnya?
Saya: Hmmm.. terus apa yang menjadi persoalan di hatimu?
Aku : Ya tidak suka aja... mestinya hidup tuh enteng, semua berjalan sesuai keinginan.
Saya: Terus apa yang menjadi persoalan di pikiranmu?
Aku : Lha? Emang beda ya persoalan di hati dan di pikiran?
Saya: Mestinya beda sih...
Aku : ...(berdiam diri)
Saya: Oke, saya bantu. Menurut pikiranmu, orang lain bisa hidup jauh lebih mudah... benarkah begitu?
Aku : Enggak juga sih...
Saya: Terus apa dong?
Aku : Aku tahu bahwa orang bisa sukses bila mau terus berpikir dan bekerja dengan baik.
Saya: Hmmm...
Aku : Tapi tetap saja... aku enggak mau repot... gimana nih?
Saya: Coba telusuri... sebernarnya kamu merasa terganggu karena apa? Karena beban yang harus ditanggung dalam masalahmu atau karena kamu merasa enggak mau menanggung?
Aku : Maksudnya?
Saya: Begini... persoalanmu sebenarnya di beban masalahnya atau karena kamu enggan menanggung beban itu?
Aku : ...(termenung dan hening)...
Saya: Saya tunggu jawabannya.
Aku : ...(masih terdiam seribu bahasa)...
Saya: Saya pikir sangat besar kemungkunan kamu enggan menanggung beban karena pada kenyataannya banyak orang punya masalah lebih besar dari kamu malah sekarang lebih sukses sebab mereka mau melaluinya dan berkenan menjalaninya.
Aku : ...(menundukkan kepala). Tapi.
Saya: Iya... saya mengerti memang tidak gampang melewati suatu persoalan... tapi bukankah hidup ini tidak ada warnanya bila tidak ada persoalan seperti yang kamu alami?
Aku : Apa yang kamu omongin semua benar... tapi tetap saja kayaknya kalau hidup tidak ada masalah kan jauh lebih nikmat.
Saya: Hmmm... saya menghargai pendapat kamu... saya ingin tahu lebih lanjut dari kamu... nikmat yang kamu maksud itu seperti apa yah?
Aku : Ya yang enak saja, hidup selalu mulus...
Saya: Oh...
Aku : (terdiam)
Saya: Saya mau kamu share dong, sebenarnya sejak kapan kamu bisa punya perasaan bahwa bila tidak punya masalah, hidup ini terasa enak?
Aku : Sejak remaja kayakny.
Saya: Wah sudah lama juga ya... terus karena punya prinsip seperti ini sudah lama.. bila kamu evaluasi, sebenarnya dari remaja hingga sekarang hal-hal positif apa saja yang telah kamu terima setelah memegang prinsip ini?
Aku : (diam)
Saya : Sesungguhnya dari tadi kamu sering tidak menjawab sebenarnya kenapa? tidak berani menjawab atau belum tahu jawabannya?
Aku : Kayaknya bingung saja jawabannya apa.
Saya: Begini... sesungguhnya saya sangat menghargai kamu... dari tadi saya selalu berusaha mendengarkan kamu... dan sangat ingin tahu semua isi hati kamu.
Aku : Ya... terima kasih.
Saya: Saya hanya ingin kamu terbuka dengan diri sendiri. Sebenarnya kurang tepat bila kamu terus melakukan sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu manfaatnya.
 Aku : Oh...
Saya: Iya dong... saya penginnya kamu memegang prinsip apa pun ketika melakukan sesuatu, mesti jelas manfaatnya...
Aku : Hmmm...
Saya: Perlu sekali selalu mencintai diri dengan alasan-alasan yang terbaik dalam hidup ini.
Aku : Ah udah ah puyeng nih...
Saya: ...(berdiam diri)
Aku : udah deh... nani aku bisa sadar sendiri.
Saya: ...(masih berdiam diri).
Aku : Lha kok kamu yang diam.
Saya: Karena saya menghargai kamu.
Aku : (menunduk)
Saya: Oke... kamu sudah sangat dewasa, kamu punya kebiksanaan yang utuh dah penuh.
Aku : Kok kamu bilang begitu? Sudah jelas-jelas diriku ini tidak punya kebiksanaan.
Saya: Enggak... itu buka diri kamu yang sesungguhnya... dirimu yang sejati punya kebijaksanaan yang besar... saya percaya itu.
Aku : Hmmm...
Saya: (menjabat tangan).
Aku : Oke.
Saya: Terima kasih atas sharing-nya , saya sangat bersyukur kamu berkenan bicara denganku.
Aku : Lhe emang sudah selesai? Tunggu.. aku kan belum selesai.
Saya: OH, oke.
Aku : Begini... aku aku tahu, selama ini dengan egoku, aku berusaha selalu menghindari masalah, karena aku merasa enggak mampu... entah kenapa perasaan ini begitu kuat... aku berusaha untuk selalu bahagia tapi kok enggak bisa ya?
Saya: Terus...
Aku : Aku ingin bisa jadi orang yang kuat dan selalu menang, tapi ada sesuatu dalam hatiku yang merasa diriku tak layak.
Saya: Maksudnya...
Aku : Iya... aku merasa enggak layak dalam hidup ini... aku merasa rendah diri dan tidak pantas untuk merasakan hal-hal yang berkualitas dalam hidup ini.
Saya: Kok bisa?
Aku : Dari kecil aku menerima hal-hal yang tal memuaskan, apa yang kuinginkan selalu tak kudapat.
Saya: Hmmm... terus...
Aku : Iya, seperti anak-anak lain... terutama anak orang kaya... apa pun yang mereka inginkan bisa dinikmati dengan mudah.
Saya: Iya... terus apalagi?
Aku : Selain itu, ibu juga sangat sering menyakiti hatiku, caranya marah membuatku merasa marah pada semua keadaan... aku sungguh kesal... aku ingin ada di keluarga yang nyaman bahagia dan berkecukupan.
Saya: Menurutmu, apakah semua itu harus berdampak pada masa sekarang dan masa depanmu?
Aku : Iya... sangat! Aku merasa rendah diri, merasa tidak mampu...
Saya: Hmmmm...menurutmu, adakah orang lain yang mengalami hala yang sama seperti kamu atau yang lebih buruk tapi sekarang dia bisa sukses? Ada tidak kira-kira?
Aku : *terdiam*
Saya: kok diam?
Aku : Grrrrhhhh... sudahlah... tidak mau bahas lagi... hidup ini tidak adil... mengapa aku harus mengalami semua ini...?
Saya: (menepuk bahuny)
Aku : Kenapa semua harus begini?
Saya: sebenarnya apa sih yang kamu rasakan sekarang?
Aku : Marahhh...
Saya: Oke.. jadi kamu marah ya... kalau begitu apa harapan kamu?
Aku : Aku ingin hidup tenang dan damai, terutama hidup berkecukupan.
Saya: Hmmmm... kalau boleh tahu... kira-kira persisnya perasaan seperti apa yang sangat kamu inginkan, di antara tenang damai, dan berkecukupan.
Aku : Idup berkkucukuan!
Saya: Menurut kamu, apa yang dikatakan sangat cukup bagi kamu?
Aku : Ya sayya memiliki segalanya... semua materi yang saya inginkan!
Saya: Lalu menurut kamu, apakah dengan memiliki semua materi tersebut dapat membuat kamu bahagia?
Aku : *terdiam sejenak*... tidak juga sih...
Saya: Terus menurut kamu hal apa yang sebenarnya kamu inginkan?
Aku : Ingin hidup tenang...
Saya: Hmmm.... good! Jadi, kamu ingin hidup tenang yah?
Aku : Ya *nada rendah*
Saya: Oke, andaikan kamu bisa memperbaiki semua keadaan ini dengan berjuang keras untuk akhirnya menjadi orangtua terbaik bagi anak-anakmu kelak dan dapat memberikan rasa tenang yang mendalam bagi mereka, bagaimana?
Aku : *terdiam*

KESIMPULAN
Kesadaran kita akan persoalan yang di hadapi menentukan rasa yang kita alami. Semakin kita fokus akan rasa saki, wajar saja bila terus-menerus merasa sakit, bahkan semakin sakit. Alihkan fokus dan ambil tanggung jawab atas masa depan. Kesadaran membuat rasa sakit semakin berkurang.

Dedy Susanto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar